Serba Serbi


Bokashi Sebagai Alternatif Media Tanam Pada Tanaman Obat


Media tanam tentu tidak asing didengar oleh orang yang berkecimpung dalam dunia pertanian karena media tanam merupakan salah satu syarat berlangsungnya kegiatan tersebut. Kondisi materi media tanam yang meliputi sifat fisik, kimia dan biologi sangat mempengaruhi hasil bercocok tanam. Untuk mempertahankan kondisi materi media tanam yang baik dapat dilakukan pemberian bokashi. Bokashi merupakan hasil fermentasi bahan organik dengan teknologi EM yang dapat digunakan sebagai pupuk organik untuk menyuburkan tanah dan meningkatkan pertumbuhan tanaman.

Media tanam dapat diartikan sebagai tempat tinggal atau “rumah” bagi tanaman. Tempat tinggal yang baik dapat mendukung pertumbuhan dan kehidupan tanaman. Oleh karena itu, media tersebut harus memenuhi berbagai persyaratan antara lain:

-    Dapat dijadikan tempat berpijak tanaman

-    Mampu mengikat air dan unsur hara yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman

-    Mempunyai drainase dan aerasi yang baik

-    Dapat mempertahankan kelembaban di sekitar akar tanaman

-    Tidak menjadi sumber penyakit bagi tanaman

-    Tidak mudah kering

-    Mudah didapat dan harganya relatif murah

Memang tidak semua bahan untuk media tanam memenuhi semua persyaratan tersebut diatas. Apabila menghendaki suatu kesempurnaan, alternatif pemecahannya adalah dengan mengkombinasikan beberapa bahan untuk media tanam sehingga menghasilkan struktur yang sesuai dengan akar tanaman yang akan ditanam. Hal itu disebabkan setiap jenis bahan media mempunyai pengaruh yang berbeda-beda pada setiap tanaman.

Berbagai bahan untuk media tanam telah banyak ditemukan. Bahan-bahan tersebut mempunyai karakteristik yang berbeda-beda sehingga perlu dipahami agar mendapat media tanam yang baik dan sesuai dengan jenis tanaman. Berdasarkan unsur-unsur penyusun media tanam dikelompokkan menjadi bahan anorganik dan bahan organik.

 

Bahan Anorganik

Bahan anorganik adalah bahan yang banyak mengandung unsur mineral yang berasal dari proses pelapukkan batuan induk yang terdapat di dalam bumi. Proses pelapukkan ini diakibatkan oleh berbagai proses yaitu pelapukkan secara fisik, biologi  mekanik dan kimiawi.

Bila dilihat dari kandungannya, mineral dapat dibedakan menjadi dua yaitu mineral primer dan mineral sekunder. Mineral primer adalah mineral yang langsung dibentuk dari proses pelapukkan bahan induk (batuan) seperti kwarsa, dolomit, mika, apatit atau leusit. Mineral sekunder adalah mineral yang berasal dari hasil bentukkan baru bersamaan dengan terbentuknya tanah seperti haloisit, gibsit dan montmorilonit. Mineral primer biasanya termasuk dalam kelompok pasir dan debu sedangkan mineral sekunder termasuk kelompok liat. Namun, mineral-mineral tersebut belum berbentuk unsur-unsur hara (garam-garam mineral yang tersedia dan dapat diserap oleh tanaman).

 

Bahan Organik

Bahan media tanam yang termasuk dalam kategori bahan organik sebagian besar komponen penyusunnya berasal dari organisme hidup, contohnya bagian dari tanaman seperti daun, batang atau kulit kayu dan kotoran hewan. Bahan organik sebagai media tanam mampu menyediakan unsur-unsur hara bagi tanaman. Bahan ini akan meningkatkan sirkulasi udara cukup baik dan mempunyai daya serap air yang tinggi.

Bahan organik akan mengalami proses pelapukkan atau dekomposisi yang dilakukan oleh mikroorganisme. Dari proses dekomposisi akan dihasilkan karbondiaoksida (CO2), air (H2O) dan mineral. Mineral yang dilepas tersebut merupakan sumber unsur hara yang dapat diserap oleh tanaman. Namun proses dekomposisi yang terlalu cepat menyebabkan media tanam harus sering diganti untuk menghindari timbulnya bibit penyakit. Oleh karena itu, unsur hara sebagai zat makanan tanaman harus tetap diberiakan sebelum bahan media tanam mengalami, proses dekomposisi.

Penambahan bahan organik atau kompos akan meningkatkan populasi mikroba seperti bakteri, jamur Actinomycetes dan fungsi dari populasi mikroba bertambah sesuai dengan yang diinginkan. Didalam kompos juga terdapat mikroba yang berperan dalam pembentukkan humus baru.

Beberapa permasalahan yang dihadapi dalam pemanfaatan bahan organik dalam bercocok tanam:

- Apabila proses pembuatannya kurang sempurna maka akan mengakibatkan timbulnya hama dan penyakit.

- Unsur hara belum dapat diserap langsung oleh tanaman karena proses penguraian bahan organik kurang sempurna

- Populasi mikroorganisme pengurai sangat sedikit dan jenisnya tidak terkontrol sehingga proses penguraiannya sangat lambat

- Suhu dalam tanah menjadi tinggi karena proses penguraian masih aktif berlangsung.

Semua permasalahan tersebut pada akhirnya dapat menghambat pertumbuhan dan produksi tanaman. Untuk mengatasi permasalahan akibat penggunaan bahan organik yang kurang sempurna ini, maka bahan organik yang akan digunakan sebagai pupuk organik harus disempurnakan dengan rekayasa teknologi dengan memanfaatkan mikroorganisme sebagai pelaku utama didalam proses penguraian bahan organik tersebut.

 

Teknologi Effective Microorganism (EM)

Teknologi Effective Microorganism (EM) adalah teknologi budidaya pertanian untuk meningkatkan kesehatan maupun kesuburan tanah dan tanaman dengan menggunakan mikroorganisme yang bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman. Mikroorganisme tersebut diaplikasikan sebagai inokulan dalam suatu kultur campuran yang disebut EM (di Indonesia dengan nama dagang EM-4). EM sebagian besar mengandung mikroorganisme lactobacillus sp, bakteri penghasil asam laktat. Dalam jumlah sedikit bakteri fotosintetik, streptomycus sp dan ragi yang berfungsi untuk memfermentasikan bahan organik tanah menjadi senyawa organik yang mudah diserap oleh perakaran tanaman. EM juga dapat digunakan untuk mempercepat pengomposan sampah organik atau kotoran hewan.

 

Bokashi

            Bokashi pada dasarnya merupakan istilah jepang yang berarti humus hutan lama, oleh sebab itulah bokashi berkandungan unsur hara tinggi dan mikroorganisme yang menguntungkan. Bokashi adalah hasil fermentasi bahan organik (jerami, sampah organik, pupuk kandang, dll) dengan teknologi EM yang dapat digunakan sebagai pupuk organik untuk menyuburkan tanah dan meningkatkan pertumbuhan maupun produksi tanaman. Bokashi dapat dibuat hanya dalam beberapa hari dan dapat langsung digunakan sebagai pupuk organik. Bahan baku untuk pembuatan bokashi dapat memanfaatkan segala macam bahan/limbah organik yang ada di sekitar kita misalnya dedak padi, dedak jagung, dedak gandum, sekam padi, kulit kacang, jerami, serbuk gergaji, sabut kelapa, kotoran semua jenis ternak, sampah dapur, sampah organik kota dan bahan sejenis lainnya.

 

Cara Pembuatan Bokashi

            Bokashi banyak macamnya, tergantung pada bahan organik yang digunakan. Secara umum cara pembuatan bokashi adalah sebagai berikut :

1.      Bahan – bahan

-          Pupuk kandang 2 bagian

-          Sekam padi 1 bagian

-          Dedak padi 1 bagian

-          EM dan air secukupnya

2.      Cara Pembuatan

-          Campurkan pupuk kandang, dedak dan sekam secara merata

-          Larutkan EM kedalam air (1:100)

-          Siramkan larutan EM yang telah diencerkan pada campuran secara merata hingga kadar air sekitar 30%

-          Masukkan kedalam wadah plastik yang tertutup dan ditutup rapat. Bila tidak tersedia wadah plastik yang besar maka adonan yang telah dibuat tadi disebar diatas lantai dengan ketinggian sekitar 15-20 Cm dan tutup dengan karung goni

-          Selama fermentasi berlangsung harus diperiksa suhunya dengan thermometer. Jika suhu naik melebihi 50 ºC maka bokashi perlu diaduk supaya udara masuk dan suhunya turun.

Bokashi akan dapat digunakan bila sudah tidak berbau dan terdapat lapisan jamur putih.

Disamping bahan baku yang dipilih, proses pembuatan juga menentukan kualitas bokashi yang dihasilkan. Faktor penting yang berperan dalam proses pembuatan bokashi seperti jenis, jumlah dan kualitas mikroorganisme yang digunakan merupakan hal yang sangat menentukan. Kondisi lingkungan (suhu, pH, kelembaban, dll) yang mempengaruhi peningkatan aktivitas mikroorganisme juga menjadi kunci utama keberhasilan pembuatan bokashi ini. Kondisi lingkuan yang sesuai bagi mikroorganisme (EM) biasanya adalah suhu tidak lebih dari 50 ºC, energi dan nutrisinya cukup terlindung dari panas dan percikan air.

            Kualitas produk akhir ditentukan oleh bau yang khas, warna kecoklatan, pH (sekitar 6-7), kandungan hara baik makro maupun mikro, serta kadar air sekitar 30 %.

 

Hasil Pemanfaatan Bokashi

            Beberapa penelitian yang telah dilakukan baik di lahan petani maupun di perkebunan (kerjasama dengan beberapa PTPN) maupun di rumah kaca pada berbagai komoditas tanaman terhadap aplikasi bokashi) menunjukan adanya peningkatan terhadap pertumbuhan, kualitas maupun kuantitas produksi.

Pemanfaatan bokashi untuk tanaman obat :

1. Pembibitan tanaman obat

Pembibitan tanaman obat dianjurkan menggunakan 4 bagian tanah dan 1 bagian bokashi dalam wadah pembibitan

2. Tanaman obat dalam pot

Tanaman dalam pot dapat memanfaatkan bokashi yang kaya bahan organik dengan menggunakan 20-50 % bokashi sebagai bahan pencampur tanah.

3. Tanaman obat dalam taman rumah tangga atau kebun budidaya tanaman obat

Tanaman obat seperti sambiloto, sambung nyawa, daun dewa, pegagan, dll dianjurkan menggunakan bokashi sebanyak 200-250 gr per tanaman. Pemberian bokashi dianjurkan setiap 3 bulan sekali. irma

 

LAYANAN KAMI


  1. Klinik Herbal
  2. Balai pengobatan Herbal
  3. Konsultasi Pengobatan
  4. Obat-obat Herbal
  5. Kebun Tanaman Obat
  6. Pelatihan Tanaman Obat
  7. Agrowisata Tanaman Obat
  8. ...
Layanan Lain

AGENDA

November 2017
MSSRKJS
1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930